Pertemuan Dua Hari Bahas HAM AS-China Digelar
Selasa, 24 Juli 2012
(IANN News) Washington - Amerika Serikat dan China, di Washington, Senin, mengawali pertemuan dua hari mengenai HAM. Beberapa isu sensitif dijadualkan tuan rumah, di antaranya kasus Tibet dan pembelot China, Chen Guangcheng.
Pertemuan itu tahunan itu dipimpin Wakil Menteri Luar Negeri, Michael Posner, dan pejabat tinggi Kementerian Luar Negeri China.
"Kami menilai ini bagian integral dari seluruh upaya untuk mencoba membangun kemitraan kuat dan kerja sama di segala bidang dengan China," kata Juru Bicara Departemen Luar Negeri, Victoria Nuland, kepada wartawan.
"Kami akan selalu, baik di tingkat kepresidenan, tingkat kementerian, atau di tingkat kelompok kerja, membahas tidak hanya kasus-kasus individu namun juga keprihatinan kami mengenai penegakan hukum, keadilan bagi semua orang, persamaan hak dan Tibet."
Tibet di "atap dunia" semula wilayah otonom dan berdaulat sebelum dianeksasi dengan kekuatan militer pemerintahan komunis China pada awal '50-an dalam Revolusi Kebudayaan mereka. Pemerintahan Tibet kemudian dilaksanakan dari luar Istana Lhasa tempat Dalai Lama bertahta sebelum aneksasi itu dilakukan.
Bagi China, isu Tibet ini sangat sensitif sebagaimana tentang Pulau Formosa alias Republik Taiwan yang menyatakan diri negara merdeka dan berdaulat, lepas dari kekuasaan Beijing pasca Perang Dunia Kedua.
"Kasus Chen dan laporan penganiayaan terhadap keluarganya juga akan menjadi satu dari sejumlah topik yang dibahas," kata Nuland.
Chen divonis penjara lebih dari empat tahun pada 2006 setelah mengungkap penyelewengan dalam pelaksanaan kebijakan satu anak di China dan kemudian ditempatkan dalam tahanan rumah di desa Shandong pascabebas dari penjara pada September 2010.
Aktivis berusia 40 tahun itu kabur dari tahanan rumah pada April tepat ketika Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton mengunjungi negara komunis itu. Suatu peristiwa yang memicu ketegangan diplomatik.
Chen akhirnya diizinkan ke New York bersama istri dan dua anaknya yang tiba di sana pada 19 Mei, tetapi telah menuduh para pejabat di China mempersulit kehidupan sejumlah anggota keluarganya yang tinggal di China.
"Kami selalu membahas situasi ini, mengenai anggota keluarganya dan para pendukungnya serta menyeru penanganan yang tepat dan bukannya pembalasan," kata Nuland.
Dia menambahkan bahwa mampu berdialog secara langsung mengenai hak asasi manusia di segala bidang menunjukkan bahwa hubungan AS dan China telah "dewasa".
- Kendaraan Unik Bertenaga Anjing
- Raja Arab Sumbang Rp50 M untuk Warga Suriah
- Ramadnan, Momentum Damai Islam-Kristen Nigeria
- Kapasitas Masjidil Haram Tambah 200.000 Orang
- Jalan Menuju 'Surga' di China
- Menyelami Keajaiban Warna-warni Kota di Dunia
- Topan Vicente Mengamuk di Hong Kong
- Al-Shabaab Somalia Eksekusi Tiga Mata-mata
- Wanita Inggris Jadi Mualaf di Tanah Palestina
- Menteri Mundur Gara-gara Feri Tenggelam di Tanzania












